www.studiohanafi.com Advertisement
Home
Wednesday, 10 March 2010
 
 
Studio Hanafi
2009 - Hanafi - Mengenang Rendra - Gedung Indonesia Menggugat - Bandung
Written by Gigin Ginanjar   
Friday, 16 October 2009

 Active Image                  Active Image

 

HANAFI MENYANYIKAN ZAITUN  - Gedung Indonesia Menggugat - Bandung - 2009

 

Catatan: Herry Dim

 

Hanafi, seniman kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 5 Juli 1960, untuk pameran totalnya kali ini di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) beranjak dari puisi naratif karya Rendra "Nyanyian Angsa." Berikut ini adalah obrolan dan kemudian catatan upaya untuk memasuki dunia Hanafi, Maria Zaitun, dan Rendra.

 

Tanya: Kenapa "Nyanyian Angsa" dan bukan puisi atau karya Rendra yang lain?

Hanafi: Maria Zaitun di dalam "Nyanyian Angsa" itu saya, saya adalah Maria Zaitun.

T: Bukankah anda lelaki, sedangkan....?

H: Di puncak derita manusia, itu tidak ada lagi batas gender. Derita dan bahagia itu dialami dan bisa dirasakan oleh manusia dengan jenis kelamin apapun. Dan saya, meskipun tak sama, pernah mengalami penderitaan seperih itu.

T: Universal, Maria Zaitun itu bisa siapa saja?

H: Ya, bisa saja Marsinem, atau siapapun.

T: Atau justru personifikasi diri anda dengan meminjam padanan pada deritanya Maria Zaitun?

H: Tidak juga begitu.

T: Maksudnya?

H: Kalau anda perhatikan, kanvas yang saya gunakan itu saya balik, saya gunakan bagian dalam dari kanvas itu sebagai dasar.

T: Artinya?

H: Saya melukis Maria Zaitun dari dalam, saya menjadi Maria Zaitun terlebih dahulu untuk mengungkapkan ini semua.

T: Setelah atau pun manakala anda menjadi Maria Zaitun, apa yang anda temukan?

H: Dia itu seorang yang gagah, perempuan yang tak pernah merengek.... dia hadapi seluruh keperihan hidupnya itu dengan tetap melangkah meski harus dengan kaki mengangkang karena selangkangannya sudah penuh dengan luka...

 

**

 

Sajak "Nyanyian Angsa" ditulis Rendra ketika ia berada di AS tahun 1965. Isinya menarasikan nasib Maria Zaitun. Beberapa pengamat menyandingkan Maria Zaitun ini dengan Maria Magdalena yaitu nama yang disebut di dalam kitab Injil. Gambaran hidupnya sangat kontroversial sekaligus dramatik. Ia antara lain disebut sebagai orang yang pernah dirasuki tujuh setan dan setan-setan tersebut lalu diusir oleh Yesus (Markus 16:9). Sering juga dikaitkan dengan kisah perempuan yang berbuat zinah (Yohanes 8), dan perempuan berdosa yang membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian menciumnya dan meminyakinya dengan minyak wangi (Lukas 7).

Maria Zaitun di dalam sajak Rendra adalah pelacur yang diusir majikannya karena dianggap sudah tidak laku, bahkan merugikan karena kedapatan penyakitan.

Rendra melalui tokoh Zaitun, ini memasuki wilayah kemanusiaan yang paling mendasar. Dengan memasuki diri Zaitun pula ia memberontak, ia tak bisa menerima perlakuan terhadap mausia itu dipersamakan dengan perlakuan terhadap barang atau benda-benda.

"Sekotor dan serusak apapun, manusia harus diperlakukan sebagai manusia. Tak bisa ia dibuang begitu saja seperti halnya benda," itu kata Hanafi kala membicarakan sajak dan proses kreatifnya.

Tapi Zaitun ternyata ditolak di mana-mana. Teman-temannya pun buang muka. Ia menyusur aspal panas di terik matahari jam 12 siang tanpa sepatu, sempoyongan, demam karena sipilis membakar tubuh serta borok di selangkangan, leher, ketiak, dan susunya. Dokter pun tak memberikan salvarsan karena Zaitun tak sanggup bayar serta dianggap sudah tak guna dan tinggal menunggu mati. Lantas Zaitun mendatangi gereja untuk mengaku dosa. Pintu gereja tertutup baginya, Zaitun berteriak: “Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.Saya tak butuh tahu asal-usul dosa saya. Yang nyata hidup saya sudah gagal. Jiwa saya kalut. Dan saya mau mati. Sekarang saya takut sekali. Saya perlu Tuhan atau apa saja untuk menemani saya.”

 

Last Updated ( Friday, 16 October 2009 )
 
 
Top! Top!