|
Membuat Adalah Memikir ( Making is Thinking ) Jim Supangkat / Kurator (Curator) Pada mulanya saya terkejut ketika mengetahui ia menyiapkan lukisan-lukisan dekonstruksi itu untuk pameran ulang tahun ke-50. Sebelumnya saya membayangkan ia akan menampilkan tanda-tanda penting dalam perjalanan karirnya dan memperagakan berbagai keunggulan dalam kerja melukisnya selama ini. Melakukan dekontruksi merupakan kebalikan dari apa yang saya bayangkan. Ia seperti mulai lagi dari titik nol dan kehilangan peluang untuk memperagakan berbagai keungggulan yang dicapainya selama ini. Namun keyakinan Hanafi teguh. Pada ulang tahunnya ia cenderung melihat ke depan dan meneruskan pencarian artistiknya. Ia tidak melihat ke belakang untuk menghitung-hitung pencapaian. Kendati pada awalnya pesimistis, harus saya akui Hanafi berhasil mengatasi masalah pelik akibat dekonstruksi-diri itu. Seperti terlihat pada pameran ini lukisan-lukisannya tetap menampilkan pesona. Saya segera menyadari, sebenarnya Hanafi tidak meninggalkan kemampuan yang sudah menempel padanya—berkembang selama bertahun-tahun dalam sebuah perjalanan artistik. Gagasan dekonstruksi-diri menunjukkan bahwa ia merasa masih bisa mengembangkan kemampuan yang sudah mapan. Dan saya melihat, lukisan-lukisan hasil dekonstruksi ini memang lebih sophisticated dari lukisan-lukisannya yang dulu. At first, I was taken aback when I found out he was preparing a series of deconstructive paintings for his 50th birthday exhibition. For I had thought he would have exhibited representations that would symbolize important milestones of his career, demonstrating what is considered superior and excellent in his creative works thus far. Deconstruction is the opposite of what I had imagined. It is as if he has willed himself to start again from zero, relinquishing the opportunity to show off his many high points and achievements. But Hanafi held firm to his beliefs. For his birthday, he is looking forward and continuing on the path of his artistic exploration. He isn’t looking backwards, recounting his achievements, resting on his laurels. Though pessimistic at first, I must admit that Hanafi has suceeded in overcoming the complications of this self-deconstruction process. As evidenced in this exhibition, his paintings do not lose any of their allure. Thus I quickly realized, Hanafi hasn’t left any of the abilities he possessed—abilities cultivated through years of going down that artistic path. This self-deconstruction idea shows his capacity to expand his abilities that already seemed so established before. And I can see how the paintings emerging from this deconstruction are more sophisticated than his previous works. 
Hanafi, Jalan Menuju Rumah, 220X270 cm, Acrylic On Canvas, 2010 HANAFI: ABSTRAKSI DAN RAHASIA KARUNIA Hanafi’s Gift Jean Couteau / Kurator (Curator) Ketika pertama kali melewatinya, boleh jadi Anda tidak terlampau tertarik memperhatikannya. Ya, di dinding itu, terpajang sebuah lukisan, dengan warna yang sekilas tak terbilang istimewa, dan juga bentuk yang selintas biasa-biasa saja. Namun tak ayal lagi, karya tersebut memang sungguh ada. Anda mengetahuinya, atau setidaknya merasa ia tergantung di situ. Sejurus kemudian, bila kembali melewati tempat yang sama, dan, setengah tak sengaja, mata anda menoleh ke karya yang itu lagi, barulah anda tersentak, memahami: Lukisan itu tidak melulu hadir di dinding, akan tetapi entah bagaimana, juga di kalbu. Atau, lebih tepat, di suatu tempat di mana anda tahu namun seakan luput mengetahuinya, tak menyadarinya. Mengemuka di sana, warna-warna tanah dan kelabu yang seolah menolak sebagai gugusan warna, juga garis-garis yang seakan mengelak mendefinisikan wujud apa pun, serta tak ketinggalan bidang-bidang yang terkesan gigih tampil sebagai bentuk jadi atau torehan rupa “informal”. Tak pelak semua ciri-ciri itu tampak “berbicara” tentang suatu ragam seni dari lapis-lapis batin terdalam. The first time you pass by it, you may not even notice it. Yes, there was a painting on the wall, of no specially striking color, no particularly outstanding form. But it was there. You know it. Simply there, or so you think. But when you pass by the same spot again, and let your eyes glance once more at the painting, only then do you understand: it is not only there, on the wall; you vaguely feel it also belongs here, somewhere inside, in a place you know “you don’t know”. The earth and grey colors, colors that are not seen as colors; the lines that seem to refuse the descriptive autonomy of lines; the obstinacy of surfaces that refuse either to give birth to finite forms or to affirm themselves as formless. All point to an art of the depths.  Hanafi, Instalasi 'Memandang Terbalik' (17 pcs) @83X39X15 cm, Fiberglass, 2010 |